Novel"Milea, Suara dari Dilan" ini merupakan seri ketiga dari kedua novel "Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990" dan "Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991". Novel ini juga menceritakan kisah yang sama pada kedua novel sebelumnya, namun dari sudut pandang yang bebeda. Film MILEA: SUARA DARI DILAN dijadwalkan akan tayang pada tanggal 13 Februari 2020 di seluruh bioskop Indonesia. Film ini merupakan sekuel terakhir dari adaptasi seri novel Dilan 1990 dan Dilan 1991 karya Pidi Baiq.. Film MILEA: SUARA DARI DILAN ini masih mengisahkan perjalanan asmara dua sejoli antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Mile (Vanesha Prescilla). ResensiNovel Milea Suara dari Dilan. Sebelumnya sudah ada film Dilan 1990 dan Dilan 1991Film yang masih disutradarai oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini juga masih dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan Vanesha Prescilla Debo Andryos Giulio Parengkuan Zulfa Maharani Omara Esteghlal Zara JKT48 Yoriko Angeline Gusti Rayhan Akew Happy Salma Ira. Dia Novelmilea adalah pelengkap dari novel dilan 1990 dan dilan 1991. Resensi buku milea, suara dari dilan. Cerita yang ada di dalam milea ini . Resensi novel "dia adalah dilanku tahun 1990" karya : Tahun 1991 terbit tahun 2015 dan milea: Suara dari dilan terbit tahun 2016. Desvinna sopia nasution · 3. Suara dari dilan · 1. Sinopsis dan . Resensi Milea Suara dari Dilan Putus Cinta Bukan Akhir Segalanya Judul Novel Milea Suara dari Dilan Penulis Pidi Baiq Tebal 357 halaman Pidi Baiq adalah penulis buku dan novel, dosen, ilustrator, komikus, musisi, dan pencipta lagu yang lahir di Bandung, 8 Agustus 1972. Namanya mulai dikenal melalui grup band The Panas Dalam yang didirikan 1995. Dia makin dikenal para pencinta karya sastra bergenre humor melalui novel Dilan bagian 1 terbit 1994, Dilan bagian 2 terbit 2015 dan Dilan bagian 3 terbit tahun 2016. Sebelumnya juga dia menerbitkan novel lain, diantaranya adalah Drunken Monster 2008, Drunken Molen 2008, dan Drunken Mama 2009. Dilan bagian 3 ini merupakan salah satu novel trilogi Dilan. Bagian ini menceritakan sosok Milea di mata Dilan. Berawal dari harmonisnya hubungan Dilan dengan Milea, Dilan dengan keluarganya, Milea dengan keluarganya, dan antarkelurga mereka. kemudian terjadi peristiwa yang memicu konflik yaitu kematian Akew, sahabat Dilan akibat dikeroyok orang tak dikenal. Milea berpikir bahwa itu imbas dari keikutsertaan Dilan dkk di geng motor. Milea ingin Dilan keluar dari geng motor tersebut. Namun Dilan yang sedang dilanda kemaraharahan dan kesedihan atas kematian sahabatnya diikat dalam rasa solidaritas ingin balas dendam. Dalam keadaan bingung dan galau Dilan butuh orang yang mengerti dirinya, tetapi Milea justru memutuskan sepihak. Diantara Dilan dan Milea terjadi kesalahpahaman yang tidak disadari mereka yang justru membuat mereka semakin jauh. Dilan menyangka bahwa Milea sudah mempunyai pacar baru dan tak mau menggangu hubungan Milea dengan Gunar. Gunar yang selalu bersama Milea di bimbingan belajar. Padahal Gunar hanya teman biasa, malah Milea dilabrak oleh pacar Gunar. Milea menjauhi Gunar meski Gunar tak mau. Milea menyangka Dilan sudah punya pacar baru ketika pada pemakaman ayah Dilan ada wanita yang mendampingi Dilan dan ada yang menginformasikan bahwa itu pacar Dilan. Milea tidak mau merusak hubungan Dilan dengan wanita tersebut. Padahal wanita tersebut adalah sodara Dilan. Dilan dan Milea menjalani kehidupan masing-masing. Dilan kuliah di Bandung sedangkan Milea kuliah di Jakarta. Mereka bertemu kembali di tempat magang Dilan di Jakarta tetapi mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing. Milea bukan dengan Gunar tapi dengan Mas Hendi. Dilan tidak dengan wanita di pemakaman tapi dengan Acika, siswa kelas 2 SMA. Hubungan Dilan dan Milea cair kembali dibahas dalam bab 18 Telepon. Sistematika novel ini berbeda dengan kebiasaan novel umumnya, biasanya novel langsung pada bab judul. Di novel ini secara runtun bagiannya terdiri atas pendahuluan, isi yang terdiri atas 18 judul, dan penutup. Hal ini seolah-olah penulis ingin menginformasikan di awal runtunan cerita yang akan disampaikan. Sebelum kita baca ke judul pun disuguhkan gambar tokoh yang mendukung cerita, ada 34 tokoh yang terlibat. Sekali lagi penulis berusaha menyampaikan informasi di awal agar pembaca mudah mengikuti alur. Hal yang menarik lainnya dari novel setebal 357 halaman ini terdapat 12 ilustrasi gambar yang menarik untuk mendukung cerita yang tersebar pada 14 bab kecuali pada bab 4, 11, 12, 13, 15, dan 20. Ilustrasi gambar tersebut sangat membantu pemahaman pembaca, seperti pada pada bab 2 yang berjudul Aku terdapat gambar Bunda, Aku dan Disa. Dan pada bab 6 Ditangkap Polisi digambarkan mobil polisi yang akan menggerebeg rumah Burhan, yang disana sudah berkumpul teman-teman Dilan yang sedang berduka atas kematian Akew, sahabatnya akibat diserang oleh kelompok tak dikenal. Dalam perkembangannya Akew hanya korban salah sasaran dari 2 kelompok kampung yang berseteru. Dia sedang nongkrong dengan 2 pemuda kampung A ketika pemuda kampun B datang kedua pemuda lari sedang Akew tak ikut lari karena menang dia tidak tahu permasalahnnya. Jadilah dia dikeroyok oleh pemuda kelompok B hingga babak belur dan tewas di tempat. Di beberapa bab terdapat puisi yang dapat dikelompokkan menjadi puisi Dilan untuk Milea sebanyak 11 puisi. kedua, puisi Milea untuk Dilan sebanyak 4 puisi yang berisi ratapan rindu Milea terhadap Dilan. Ketiga, puisi Dilan menanggapi pergaulannya dengan judul bajingan. Dan hanya satu puisi Dilan untuk Acika yang justru membuktikan bahwa Dilan sudah memberikan hati dan pikirannya untuk Acika tidak lagi kepada Milea. Dilan sudah menyadari bahwa diantara Dilan dan Milea sudah mempunyai jalan yang berbeda sudah mempunyai kebahagaian sendiri dengan pasangannya. Senada dengan tema novel ini bahwa putus cinta bukan akhir segalanya. Penggunaan bahasa yang ringan disertai dengan rasa humor tersa dalam novel ini meskipun berlatar pergaulan anak motor. Banyak penggunaan bahasa sunda dalam percakapan mereka. Ada salah satu istilah yang membuat pembaca tersenyum yaitu pada halaman 251 percakapan Dilan dengan Apud. “Teu boga bujal sigana mah,” Kayaknya dia itu tidak punya pusar. jawab Apud. “Kenapa?” “Kuda pan teu boga bujal jadi teu capean, “ jawab Apud. “Kuda kan gak punya pusar, makanya kuda gak pernah capek. Selain basa Sunda digunakan juga bahasa Jawa dalam percakapan antara Yani dengan Dilan di Yogya yang terdapat pada bab ke-13 Jogja. Terdapat pula istilah bahasa Belanda pada halaman 190 “Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” yang artinya coba usahakan bila aku datang kembali , di tempat ini sudah dibangun sebuah kota. Banyak pelajaran hidup dari novel ini, diantaranya adalah solidaritas dan toleransi kepada teman dan sahabat harus tetap terjaga. Kedua, kesadaran untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik harus terbangun dari diri sendiri dulu, bukan dari orang lain. Ketiga, tidak baik berprasangka, lebih baik cari kejelasan informasi yang didapat agar tidak menyesal kemudian. Terakhir, hargai keputusan atau pilihan yang diambil orang lain, jangan rusak kebahagian atas pilihannya. Penulis menggambarkan latar Kota Bandung tahun 90-an dengan apik dan romantisme kotanya terasa bagi pembaca yang pernah tinggal di Bandung tahun 90-an. Membangkitkan kembali kenangan-kenangan keadaan Kota Bandung tahun 90-an yang kendaraan masih jarang, belum macet seperti sekarang dan masih banyak daerah resapan air yang membuat sejuk udara bandung. Bandung ngangenin pokoknya. Satu ganjalan dari novel ini yaitu tokoh Aku Dilan yang penokohannya sangat sempurna untuk seorang tokoh utama. Jika kalian penasaran dengan kehidupan remaja tahun 90-an, novel ini cocok untuk kalian jadikan referensi bacaan. Yuniawati-2018 sumber Twitter/Pidi Baiq Buat kalian yang sudah baca ataupun nonton film Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1991 pasti sudah tahu dong gimana akhir cerita dari kisah Dilan dan Milea? Memang tidak sebahagia yang pembaca atau penonton idam-idamkan. Namun, memang begitu adanya kisah Dilan dan Milea yang sesungguhnya. Lantas, setelah Dilan 1991, bagaimana kelanjutan cerita dalam novel Milea Suara dari Dilan? Bukankah Dilan dan Milea tidak bersama lagi? Rupanya, masih banyak hal-hal dan sisi lain yang diungkapkan tentang Dilan dan Milea melalui sudut pandang Dilan. Bagaimana awal mula Dilan mengetahui Milea dan memutuskan untuk mengajaknya berkenalan dengan cara yang unik, memberikan hadiah cokelat dan tts, dan banyak lainnya. Bukan hanya seputar kisah asmara mereka, novel Milea Suara dari Dilan, juga menceritakan bagaimana latar belakang keluarga Dilan, cerita Bunda, Ayah, dan Disa. “Langsung saja, namaku Dilan bernapas menggunakan paru-paru, sama seperti seekor paus. Lahir di Bandung dari seorang ibu yang oleh anaknya dipanggil Bunda.” “Asal tahu saja, ibuku si Bunda adalah Pujakesuma, melainkan akronim Putri Jawa Kelahiran Sumatra karena dia lahir di Aceh.” -Dilan Pidi Baiq dalam Milea Suara dari Dilan, hal. 21 Selain Milea dan keluarga Dilan, novel Milea Suara dari Dilan juga menceritakan bagaimana awal mula Dilan bergabung di Geng Motor bersama Burhan dan bagaimana Dilan bisa berteman dengan Anhar. “Dan orang yang memanggilku itu kelak aku kenal sebagai Anhar yang suka bawa belati kemana-mana.” -Dilan Pidi Baiq dalam Milea Suara dari Dilan, hal. 43 Jawaban lain yang akan kamu temukan dalam novel Milea Suara dari Dilan adalah sebab yang lebih jelas mengapa mengapa Akew Sahabat Dilan bisa meninggal dunia. Satu lagi yang nggak kalah penting, kamu akan mendapat jawaban siapa pelaku dari pengeroyokan Dilan di Warung Bi Eem oleh sekelompok orang-orang nggak dikenal? Semua akan terjawab dalam novel Milea Suara dari Dilan. Bagaimana? Semakin penasaran untuk membaca novel Milea Suara dari Dilan? Ibarat film, Milea Suara dari Dilan adalah versi extended dari Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1991, tentunya dengan cerita yang lebih padat dan lengkap. Yuk! Dapatkan novel Milea Suara dari Dilan sekarang juga! Tersedia di Awita Ekasari/Mizanstore Novel Milea Suara Dari Dilan adalah bagian seri ketiga dari novel Dilan, Dia Dilanku 1990, dan Dia Dilanku 1991. Resensi novel Milea Suara dari Dilan mempunyai unsur-unsur yang menarik untuk dibaca. Isinya berupa jawaban dari pertanyaan dan keresahan yang ada di benak pembaca setelah membaca novel Dilan pada seri sebelumnya. Identitas Novel Milea Suara Dari Dilan Judul NovelMilea, Suara dari DilanPenulisPidi BaiqPenerbitPastel BooksKategoriRomanTahun Terbit2016 Sinopsis Novel Milea Suara Dari Dilan Novel Milea Suara dari Dilan menceritakan sosok tokoh Milea menurut Dilan. Kisahnya dimulai dari kisah cinta Dilan dan Milea yang harmonis. Hubungan mereka sudah mendapatkan respon positif antarkeluarga. Konflik dalam sinopsis muncul saat adanya kejadian kematian teman Dilan yang bernama Akew, akibat dikeroyok oleh orang tidak dikenal. Hal tersebut memunculkan spekulasi dari tokoh Milea bahwa Akew meninggal akibat ikut bergabung dalam geng motor. Oleh karena itu, Milea menginginkan agar Dilan keluar dari geng motornya karena kekhawatirannya akan kejadian buruk yang sudah menimpa temannya. Tetapi, saat itu Dilan sedang dalam situasi berduka. Bahkan, ia ingin melakukan balas dendam kepada orang yang telah melakukan pengeroyokan kepada temannya, sebagai salah satu bentuk kesetiakawanannya. Baca juga Kelebihan dan Kekurangan Novel Dilan 1990 Dalam kondisi tersebut, Dilan berharap agar Milea dapat mendampinginya. Tetapi, hal tersebut justru membuat Milea memutuskan Dilan secara sepihak saja. Sejak saat itu, Dilan dan Milea mengalami kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka menjadi semakin jauh. Pada akhirnya mereka benar-benar menjalani kehidupannya masing-masing, tanpa saling berkomunikasi. Milea mempunyai kekasih sendiri yaitu Mas Hendi, begitu juga Dilan mempunyai kekasih baru bernama Acika. Kelebihan dan Kekurangan Novel Milea Suara Dari Dilan Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan resensi novel Milea Suara Dari Dilan 1. Kelebihan Novel Milea Suara Dari Dilan Kelebihan novel Milea Suara dari Dilan yaitu adanya puisi romantis yang sangat menarik untuk dibaca dan dipahami maknanya. Cerita novel Milea mempunyai struktur yang sangat jelas. Saat membaca novel ini, pembaca akan mengaitkannya dengan buku novel seri pertama dan kedua. 2. Kekurangan Novel Milea Suara Dari Dilan Kekurangan dalam Novel Milea Suara dari Dilan yaitu ending ceritanya yang membosankan sehingga pembaca merasa kurang puas dari akhir cerita yang dibuat penulis. Analisa Novel Milea Suara Dari Dilan Sebagai salah satu jenis novel remaja, buku fiksi Milea Suara dari Dilan cocok dibaca oleh para remaja untuk diambil nilai positifnya. Tidak hanya diambil hal menarik atas hubungan percintaannya. Tetapi, pahami maknanya bahwa novel Milea Suara dari Dilan mencermikan hubungan antara dua orang yang masih remaja tidak selalu berdasarkan pemikiran yang tepat. Anak remaja biasanya memang masih egois dalam mengambil keputusan. Baca juga Amanat Novel Dilan 1990 Lengkap Unsur Intrinsik Novel Milea Suara Dari Dilan Adapun beberapa unsur intrinsik dalam novel Milea Suara Dari Dilan, di antaranya, yaitu 1. Tema Kisah cinta Milea dan Dilan. 2. Tokoh dan Penokohan Milea Lembut dan Setia kawan, pendendam, dan Baik, penuh kasih sayang. 3. Latar Di pinggir jalan, Rumah Milea, Kampus, Kuburan, dan di Mall. 4. Alur Alur campuran yaitu gabungan dari alur maju dan mundur. 5. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam cerita yaitu orang ketiga. 6. Amanat Amanat yang disampaikan dalam resensi novel Milea Suara dari Dilan yaitu tidak mengambil keputusan saat sedang kondisi marah dan sedih. Hubungan antar kekasih harus dengan komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kesimpulan Resensi Novel Milea Suara Dari Dilan Setelah membaca resensi novel Milea Suara dari Dilan dapat disimpulkan isi ceritanya bagus, unsur-unsurnya lengkap, dan terdapat nilai positif yang dapat diambil oleh pembacanya. Tetapi, novel ini memang hanya direkomendasikan untuk dibaca kategori remaja dan dewaja. “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Sudah pernah membaca dua novel Pidi Baiq yang terbit sebelum Milea? Belum? Tidak apa-apa. Saya juga belum baca buku Dilan 1990 dan Dilan 1991.. Saya tahu siapa Pidi Baiq. Oh, please lah. Siapa sih penikmat buku yang tidak pernah mendengar namanya? Dua novel Dilan karyanya laris manis dan mengalami cetak ulang berkali-kali. Antrean penggemar yang hendak meminta tanda tangannya pun seperti rangkaian gerbong kereta api. Cuma belum rezeki ketemu. Tiap kali ada acara yang menghadirkan Pidi Baiq di Bandung dan lokasinya saya tahu banget, kok ya selalu bentrok dengan kegiatan saya. Tapi bukan karena itu saya belum tergerak membaca Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Yang menghalangi saya membaca Dilan adalah rasa khawatir. Khawatir terseret ke masa SMA saya pada tahun 1990-1993, lalu baper dan melo berbulan-bulan. Tapi akhirnya saya membaca buku ketiganya. Milea Suara dari Dilan. Kebetulan saya memang sering membaca buku berseri dari “seri-seketemunya-aja-dulu”. Dan inilah catatan pembacaan saya atas novel Milea. Milea, romantisme remaja awal 1990-an. Milea, Suara dari Dilan Seperti judulnya, novel ini bercerita dari sudut pandang Dilan. Yang diceritakan dari sudut pandang Milea pada dua buku sebelumnya, sekarang dijelaskan oleh Dilan. Yup, tentu ada bagian yang Milea tidak tahu karena Milea tidak berada di tempat tersebut atau karena hal itu berada dalam pikiran Dilan. Halaman-halaman awal bercerita tentang masa kecil Dilan. Tentang ibunya yang orang Aceh, tentang ayahnya yang anggota militer. Tentang nilai-nilai yang ditanamkan di dalam keluarganya. “Jangan bilang ke Bunda kita dari tempat biliar,” kata ayahku kemudian. “Jangan bohong, Ayah,” kata kakakku. “Oh iya,” jawab ayahku. “Bilang ke Bunda udah dari tempat biliar, terus nanti kita janji gak akan ke sana lagi.” halaman 28 Kedekatan Dilan dengan orangtuanya, terutama Bunda, berlanjut hingga Dilan remaja dan dewasa. Aku tahu sebagian besar waktu ketika Bunda bicara kepadaku, dia tidak selalu berharap aku punya semua jawaban dia hanya ingin telingaku. “Bunda cemas sekali waktu itu. Merasa takut kehilangan anak yang Bunda sayangi,” kata Bunda lagi. “Bunda nangis.” Aku diam. Enggak tahu kenapa kata-katanya yang itu langsung bisa mengubek perasaanku. Menurutku, dia adalah ibu yang mudah merasuk ke dalam hati anak-anaknya. halaman 50. Milea yang kemudian menjadi kekasih Dilan pun dekat dengan Bunda. Cerita kemudian bergulir tentang hubungan Dilan dan Milea, tentang keterlibatan Dilan dengan geng motor, tentang persahabatan Dilan dengan Akew, Nandang, Burhan, Remi Moore, dan kawan-kawan. Perjalanan ke Masa Lalu yang Terganggu “Kesezamanan” saya dengan setting tempat dan waktu dalam novel ini membawa ingatan saya menelusuri Bandung di tahun 1990-1991. Ketika Bandung masih berkabut putih pada pukul enam pagi, ketika Cisangkuy masih jadi tempat hang out andalan anak-anak SMA. Namun, kenikmatan mengenang masa lalu itu terganggu di halaman 295. Zaman dulu batasan masa studi maksimal bisa sampai 14 tahun, jadi mahasiswa akan cukup banyak waktu untuk aktif di keorganisasian. Pada tahun 1990-an itu, masa studi maksimal bukan 14 tahun melainkan 14 semester alias 7 tahun. Semoga di cetakan berikutnya optismistis cetak ulang lagi kalau melihat antusiasme penggemar Dilan ada perbaikan penyuntingan di bagian ini. Gangguan lain adalah pada banyaknya kalimat “seperti yang Lia ceritakan di bukunya”. Kalimat ini memang bisa membuat penasaran para pembaca yang memulai membaca Dilan dari buku ketiga. Di sisi lain, sekaligus membuat kesal karena terlalu banyak pengulangan seperti ini. Yang juga mengganggu saya adalah kualitas jilidannya. Untuk buku setebal 360 halaman, jilidannya kurang kuat. Buku yang saya baca mudah-mudahan hanya yang di tangan saya “dedel dowel” di halaman 264. Novel Milea dedel dowel. Hiks Hiks, padahal sejak awal membaca saya sudah sangat berhati-hati membaca buku ini supaya tidak terlipat dan ternoda. Bagian-bagian yang saya anggap penting dan menarik saya tempeli kertas post it, tidak saya coret dan lipat seperti biasanya. Tapi yah… nasib berkata Kopi Tidak Untuk Diperdebatkan Usaha Kedai Kopi, Memahami Seluk-Beluknya. Ketika Hari-Hari Penuh Rindu Di luar ketiga hal itu, saya menikmati Milea meski sempat agak bosan dengan cerita yang Dilan-Milea melulu. Untungnya kesimpelan, keapaadaan, dan kekonyolan Dilan membuat saya bertahan membaca buku ini sampai habis dan tersenyum-senyum karenanya. Saya suka cara Bunda berkomunikasi dengan anak-anaknya meskipun si anak terlibat geng motor. Saya suka cara Ayah yang militer mendidik anak-anaknya. Tegas namun kocak dan bersahabat. Saya suka kekonyolan Dilan sejak kecil yang memberi nama “Mobil Derek” untuk sepedanya, yang memberi kado ulang tahun untuk Milea berupa buku TTS yang sudah diisi. Saya suka romantisme Dilan ketika mengenang Milea. Saya suka romantisme Milea ketika mengenang Dilan. Saya suka, meski terasa ada yang menusuk di hati dan membuat mata menjadi panas. tuhkanjadibaper Banyak kalimat yang saya suka dan menurut saya quotable banget. Bahkan puisi sederhana dari Milea untuk Dilan pun saya suka.“Apakah kamu rindu? Aku di sini, Dilan. Jauh, Jauh.” halaman 331 Tanpa bermaksud merusak buku keren ini atau promosi colongan, kalimat menjelang terakhir dalam novel ini mirip dengan kalimat dalam novel saya, Limit, yang saya tulis tahun 2013 dan terbit tahun 2014. “Dan sekarang, yang tetap di dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu selalu.” Milea. Pastel Books, 2016. “Lihatlah dalam kenanganmu tentangku. Ada aku di sana selamanya.” Limit. KPG, 2014 Kita memang hidup dalam kenangan masa lalu dan harapan masa depan. Grab It Fast Di mana bisa membeli novel Milea Suara dari Dilan ini? Kalau kamu tidak sempat meluncur ke toko buku, bisa kok beli online di Diskon 15%, lho. Atau kalau mau membeli e-book Milea ini, langsung saja ke Playstore. Sedikit bocoran dari Dilan, bakal ada buku keempat, nih. Jadi, jangan sampai ketinggalan buku ketiga ini, ya. Buku ini bukan hanya cocok dibaca remaja, tetapi juga oleh orangtua. Bukan untuk nostalgia masa remaja belaka tetapi untuk belajar ilmu parenting secara santai dari Ayah dan Bunda. Identitas Buku Judul Milea, Suara dari Dilan Pengarang Pidi Baiq Penerbit Pastel Books Grup Mizan, September 2016 Cetakan Ke-2 Tebal 360 halaman ISBN 978-602-0851-56-3 Harga Rp

resensi novel milea suara dari dilan